Oleh:
Nur Hadi N, S.Psi, CHt’s
Peta bukanlah wilayah. Salah satu asumsi dalam Neuro Linguistic Programming (Pemrograman Bahasa Syaraf) yang mengatakan bahwa manusia melihat suatu realita berdasarkan Mental Map yang ada di dalam dirinya. Contoh menarik terdapat dalam novel / film Ayat-Ayat Cinta.
Suatu ketika, Aisyah (Rianti Cartwright) membelikan sebuah laptop baru kepada Fahri (Fedi Nuril). Dalam pandangan Aisyah (mental mapnya) laptop butut itu sudah tidak pantas lagi dipakai oleh suaminya tercinta. Bukankah mereka memiliki uang yang cukup untuk membeli hanya sebuah laptop? Ia berniat memberikan kejutan dengan menjual (atau memberikan sama orang lain ya?? Lupa) laptop suaminya dan memberikan sebuah bungkusan berisi sebuah laptop baru!
Apa yang terjadi ketika Fahri melihat tidak ada komputer di meja kerjanya? Aisyah memang berhasil membuat suaminya itu terkejut. Fahri mencari-cari dan bertanya kepada Aisyah dimanakah gerangan komputer kesayangannya itu berada. Dengan Riangnya Aisyah menunjukkan hadiah yang sudah dipersiapkannya, sebuah laptop baru. Tapi tetap saja Fahri bertanya, dimanakah komputer kesayanganya?
Mendengar penjelasan Aisyah bahwa komputer itu telah dijualnya, Fahri pun menjadi terkejut (lagi). Ia menganggap tidak pantas komputer yang sudah setia menemaninya selama kuliah itu, dilupakan bahkan dijual begitu saja. Ia menganggap komputer hasil dari tabungannya sendiri itu lebih bernilai dari pada laptop baru sekalipun. Ia seolah-oleh sudah memiliki ikatan emosianal terhadap komputer itu.
Aisyah dan Fahri melihat sebuah realita (komputer) dengan mental mapnya masing-masing. Aisyah menganggap komputer itu sudah tua dan ketinggalan zaman. Sementara Fahri menganggap komputer yang sangat dicintainya itu adalah hasil keringatnya sendiri yang sangat berharga dan tidak pantas untuk dijual.
Sampai disini, jika Anda sudah pernah membaca Novel Ayat-Ayat Cinta atau menonton filmya maka Anda dapat dengan mudah memahami penjelasan singkat ini. Nah, sekarang bagaimana hubungannya dengan perilaku manusia?
Manusia sering bermasalah karena memiliki mental map yang terbatas. Banyak orang merasa stress, depresi, putus asa, bahkan tindakan bunuh diri pun bisa dipicu oleh mental map yang terlalu sempit. Konflik karena perbadaan mental map ini sudah tak terhitung lagi jumlahnya. Oleh karena itu, tugas terapis dan people helper adalah membantu klien untuk melihat masalah dari persfektif yang berbeda, memperluas mental map klien, dan kadang-kadang untuk mengerti masalah klien, terapis perlu “masuk” ke dalam mental mapnya atau membongkar mental map yang dimiliki klien.
Tulisan selanjutnya akan bercerita tentang mental map yang penuh dengan Generalisasi, Distorsi dan Delesi. Anda pasti ingin tau penjelasannya kan? Kalau begitu, ingat untuk membaca tulisan yang akan datang, Oke??
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)


0 komentar:
Poskan Komentar
Kawan, mari berikan komentar dan saran sebagai Mitra Perubahan!